<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Cangkruane Kang Abbas</title>
	<atom:link href="http://djabrik.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://djabrik.wordpress.com</link>
	<description>Uneg-unegnya Cah Ndeso</description>
	<lastBuildDate>Fri, 23 Sep 2011 02:16:01 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='djabrik.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/c1c0f165aa32f6f0b9f2a50f07ca4b2d?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Cangkruane Kang Abbas</title>
		<link>http://djabrik.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://djabrik.wordpress.com/osd.xml" title="Cangkruane Kang Abbas" />
	<atom:link rel='hub' href='http://djabrik.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Antara Kerja dan Mendidik Anak</title>
		<link>http://djabrik.wordpress.com/2011/09/23/antara-kerja-dan-mendidik-anak-2/</link>
		<comments>http://djabrik.wordpress.com/2011/09/23/antara-kerja-dan-mendidik-anak-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Sep 2011 02:16:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>djabrik</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://djabrik.wordpress.com/?p=69</guid>
		<description><![CDATA[Dijawab oleh Ustadz Muhammad Qasim, Lc. hafizhahullah Alhamdulillah, saya dan suami selalu mengikuti kajian. Namun ada sedikit yang mengganjal dalam hati tentang suami saya yang terlalu banyak tidur. Saya tahu, mungkin ia kelelahan karena kerja dalam shif 3. Akan tetapi, bila sedang kebagian shif 2 dan 3, seharian di rumah tidur terus. Dia bangun hanya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=djabrik.wordpress.com&amp;blog=58390&amp;post=69&amp;subd=djabrik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Muhammad Qasim, Lc. hafizhahullah</strong><br />
<img alt="" src="http://salafiyunpad.files.wordpress.com/2011/09/kerja-work.jpg?w=300&#038;h=207&#038;h=207" title="Kerja Vs Mandidik Anak" class="alignleft" width="300" height="207" /><br />
Alhamdulillah, saya dan suami selalu mengikuti kajian. Namun ada sedikit yang mengganjal dalam hati tentang suami saya yang terlalu banyak tidur. Saya tahu, mungkin ia kelelahan karena kerja dalam shif 3. Akan tetapi, bila sedang kebagian shif 2 dan 3, seharian di rumah tidur terus. Dia bangun hanya untuk shalat saja.<br />
<span id="more-69"></span><br />
Saya sebagai istri ingin, mumpung suami sedang ada di rumah, memanfaatkan waktu tersebut untuk ikut mengajari anak-anak membaca Al-Qur`an atau mengontrol pelajaran sekolah mereka. Atau berdiskusi dengan saya tentang masalah apa saja. Saya ingin mengungkapkan ini secara langsung kepada suami, tetapi takut. Suami saya berlangganan Majalah As-Sunnah.</p>
<p>Semoga jawaban dari Redaksi membuat suami berhasil memenej waktunya dengan baik. Jazakumullahu khairan katsiran.</p>
<p><strong>Jawab:</strong></p>
<p>Dari pertanyaan di atas, ada dua permasalahan mendasar. Pertama, tanggung jawab suami mencari nafkah. Kedua, tanggung jawab pendidikan anak dan keluarga.</p>
<p>Pertama, memang tak dapat dipungkiri, mencari nafkah sudah menjadi kewajiban suami untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga, terutama anak dan istri. Suami tidak boleh membiarkan keluarganya tanpa ada yang bertanggung jawab memberi makan dan minum. Sebagaimana dalam hadits Mu’awiyah radhiallahu ‘anhu tatkala bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia bertanya: <em>“Ya, Rasulullah! Apa hak seorang istri yang berhak ia peroleh dari suaminya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Engkau beri makan dia apa yang engkau makan . . .”. </em>(HR Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad dan an-Nasâ`i).</p>
<p>Kedua, kebanyakan orang yang justru terjerumus di dalamnya, sementara itu ia tidak menyadarinya sebagai sebuah kesalahan yang dapat mengakibatkan terjadinya keretakan hubungan antara suami dengan istri, demikian pula dengan anak-anak yang semestinya sangat memerlukan perhatian dari ayahnya. Hanya saja, seorang istri janganlah serta merta langsung menegur suaminya begitu saja mengenai kewajiban yang harus ditunaikannya. Ada dua hal pokok yang perlu menjadi pertimbangan jika seorang istri ingin mengajak bicara suami guna memecahkan masalah yang ia hadapi.</p>
<p>Pertama, waktu yang tepat. Seorang istri, janganlah mengajak bicara suami ketika ia baru pulang dari kerja atau dari bepergian. Karena ia masih kecapaian dan memerlukan istirahat.</p>
<p>Kedua, kondisi atau waktu yang tepat. Yakni dengan memperhatikan kondisi atau situasi yang tepat ketika akan mengajak berdiskusi dengan suami. Perlu diingat, hati manusia memiliki dua kondisi yang saling berlawanan arah. Jika salah dalam memilih, maka bukan solusi yang didapat; bahkan bisa menimbulkan masalah baru, sehingga masalah menjadi semakin pelik dan rumit. Suasana hati yang ceria dan tiada beban, akan dapat mendukung keberhasilan pemecahan masalah. Sebaliknya, kondisi hati yang sedang gundah dan kacau, ia tidak akan dapat menyelesaikan masalah. Kondisi hati semacam ini pernah disampaikan oleh Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, ia berkata:</p>
<p>(إِنَّ لِلْقُلُوْبِ لَنَشَاطًا وَإِقْبَالاً، وَإِنَّ لَهاَ لَتَوْلِيَةً وَإِدبَارًا… (رواه الدارمي</p>
<p><em>Sesungguhnya, hati itu terkadang timbul semangat dan mau menerima, dan ada kalanya pula ia berpaling dan menolak.</em> (HR ad-Dârimi).</p>
<p>Jika istri melihat kondisi suami telah siap untuk mendengar dan menerima saran, masukan, kritik, sekaligus mau diajak berdiskusi, maka mulailah pembericaraan ke arah yang diinginkan. Iringi dengan doa dan memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar sang suami dimudahkan dan dibukakan hatinya, serta mau mengerti kewajiban dan amanah yang harus dipikul bersama.</p>
<p>Ingatkan kembali sang suami mengenai tanggung jawab dan amanah yang harus ia tunaikan. Kewajibannya bukan hanya sekedar mencari nafkah, namun juga memiliki tanggung jawab secara bersama mengemban amanah dalam mentarbiyah (mendidik) si buah hati. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>(كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَضنْ رَعِيَّتِهِ فَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ …. ( متفق عليه </p>
<p><em>Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah tentang kepemimpinannya. Seorang suami adalah pemimpin di rumahnya, dan akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya. </em>(Muttafaqun ‘alaihi).</p>
<p>Bahwasanya anak mempunyai hak yang harus dipenuhi. Salah satunya ialah pendidikan, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :وَإِنَّ لِوَلَدِكَ عَلَيْكَ حَقٌّ  <em> (dan sesungguhnya anakmu mempunyai hak atas kamu) </em>-HR Muslim. Selain hak nafkah, pendidikan dan perhatian juga menjadi hak anak yang harus di penuhi.</p>
<p>Ajak dan mintalah pendapat suami mengenai cara mengontrol perkembangan pendidikan anak, terlebih dalam hal agama (diniyah), baik akidah, ibadah, akhlak maupun Al-Qur`ân. Karena perlu pula diingat, tanggung jawab memantau perkembangan mental, pendidikan dan moral anak bukan hanya tanggung jawab istri, namun juga menjadi tugas suami yang harus dipikul bersama. Ingatlah, pengaruh tarbiyah yang diberikan orang tua terhadap anak sangat besar. Orang tualah yang memegang kendali dan paling berperan dalam membentuk karakter maupun perilaku anak. Kedua orang tua mempunyai andil yang sangat besar. Rasulullah n bersabda:</p>
<p>مَامِنْ مَوْلُوْدٍ إِلاَّ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ                           </p>
<p><em>Tidaklah setiap anak kecuali dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi. </em>(Muttafaqun ‘alaihi).</p>
<p>Menurut para ahli, secara psikis, perhatian yang diberikan orang tua kepada anak walaupun hanya sebentar, ia bisa berpengaruh pada pembentukan kecerdasan anak.</p>
<p>Berikan pula perhatian kepada anak. Ingatkan, bahwa pahala yang besar akan didapatkan orang tua yang telah mendidik anak dan berbuat baik kepada anaknya. Sempatkan untuk duduk bersama anak walau hanya sesaat, namun sering. Ini bisa dilakukan untuk bercengkerama dan mendidik sambil menanyakan hasil dan perkembangan belajarnya. Jangan sampai timbul kesan seolah sebagai anak tidak mempunyai ayah yang mau memperhatikannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda memberi kabar gembira bagi orang tua yang mau mendidik anak-anaknya dengan baik:</p>
<p>(مَنِ ابْتُلِيَ مِنَ الْبَنَاتِ بِشَيْئٍ فَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّارِ ( متفق عليه </p>
<p><em>Barang siapa diuji dengan beberapa anak perempuan lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka anak-anaknya tersebut akan menjadi penghalang baginya dari api neraka.</em> (Muttafqun ‘alaihi).</p>
<p><em>Istri perlu pendamping yang bisa memotivasi, mendidik, sekaligus menjadi qudwah (teladan), sehingga bisa dijadikan tepmpat berlindung ketika ada masalah. Kepemimpinan seorang suami yang baik bisa membuat istri merasa aman, tetap merasa ada pelindung, dan pemimpin yang bisa membimbingnya. Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.</em> (Qs. an-Nisâ`/4:34).</p>
<p>Ingatlah, anak shâlih mendapatkan manfaat dari keshalihan orang tua. Allah berfirman, yang artinya: <em>Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya. </em>(Qs ath-Thûr/52:21).</p>
<p>Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa membimbing kita ke jalan yang benar. (Ustadz Muhammad Qasim).</p>
<p>Artikel www.salafiyunpad.wordpress.com , disalin dari kumpulan naskah Majalah As-Sunnah</p>
<br />Filed under: <a href='http://djabrik.wordpress.com/category/keluarga/'>Keluarga</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/djabrik.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/djabrik.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/djabrik.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/djabrik.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/djabrik.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/djabrik.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/djabrik.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/djabrik.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/djabrik.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/djabrik.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/djabrik.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/djabrik.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/djabrik.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/djabrik.wordpress.com/69/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=djabrik.wordpress.com&amp;blog=58390&amp;post=69&amp;subd=djabrik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://djabrik.wordpress.com/2011/09/23/antara-kerja-dan-mendidik-anak-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">djabrik</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://salafiyunpad.files.wordpress.com/2011/09/kerja-work.jpg?w=300&#038;h=207" medium="image">
			<media:title type="html">Kerja Vs Mandidik Anak</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Zuhudlah Terhadap Dunia…</title>
		<link>http://djabrik.wordpress.com/2011/09/23/zuhudlah-terhadap-dunia%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://djabrik.wordpress.com/2011/09/23/zuhudlah-terhadap-dunia%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Sep 2011 01:49:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>djabrik</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Nasihat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://djabrik.wordpress.com/?p=58</guid>
		<description><![CDATA[“Zuhudlah terhadap dunia, niscaya kamu dicintai Allah. Zuhudlah terhadap apa yang dimiliki manusia, niscaya kamu akan dicintai oleh mereka.” (HR. Ibnu Majah. Ibnu Hajar berkata dalam Bulughul Maram, isnadnya hasan) Pengertian zuhud adalah berpalingnya keinginan terhadap sesuatu kepada sesuatu yang lebih baik darinya. Zuhud terhadap dunia bukanlah dengan mengharamkan yang halal dan bukan pula dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=djabrik.wordpress.com&amp;blog=58390&amp;post=58&amp;subd=djabrik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>“Zuhudlah terhadap dunia, niscaya kamu dicintai Allah. Zuhudlah terhadap apa yang dimiliki manusia, niscaya kamu akan dicintai oleh mereka.”</em> (HR. Ibnu Majah. Ibnu Hajar berkata dalam Bulughul Maram, isnadnya hasan)<br />
<img alt="" src="http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTm8E7piSWYmT8T8nNC4BuRFPSmajn97DO57hykvn5UNRnDvzYI" title="Zuhud" class="alignleft" width="194" height="259" /><br />
Pengertian zuhud adalah berpalingnya keinginan terhadap sesuatu kepada sesuatu yang lebih baik darinya.</p>
<p>Zuhud terhadap dunia bukanlah dengan mengharamkan yang halal dan bukan pula dengan membuang harta. Tetapi zuhud terdahap dunia adalah engkau lebih yakin dan percaya kepada apa yang di tangan Allah daripada apa yang ada di tanganmu. Juga engkau bersikap sama, baik ketika ditimpa musibah maupun tidak, serta dalam pandanganmu, orang lain adalah sama, baik yang memujimu atau yang mencelamu karena kebenaran.<br />
<span id="more-58"></span><br />
<strong>Tingkatan Zuhud</p>
<p>Pertama,</strong></p>
<p>Seseorang yang zuhud terdahap dunia, tetapi ia sebenarnya menginginkannya. Hatinya condong kepadanya, jiwanya berpaling kepadanya, namun ia berusaha untuk mencegahnya. Ini adalah <em>mutazahhid</em> (orang yang berusaha zuhud).</p>
<p><strong>Kedua,</strong></p>
<p>Seseorang meninggalkan dunia – dalam rangka taat kepada Allah Ta’ala – karena ia melihatnya sebagai sesuatu yang hina dina, jika dibandingkan dengan apa yang hendak digapainya. Orang ini sadar betul bahwa ia berzuhud, walaupun ia juga memperhitungkannya. Keadaan pada tingkatan ini seperti meninggalkan sekeping dirham untuk mendapatkan dua keping dirham.</p>
<p><strong>Ketiga,</strong></p>
<p>Seseorang yang zuhud terhadap dunia dalam rangka taat kepada Allah dan dia berzuhud dalam kezuhudannya. Artinya ia melihat dirinya tidak meninggalkan sesuatupun. Keadaannya seperti orang yang membuang sampah, lalu mengambil mutiara. Perumpamaan lain adalah seperti seseorang yang ingin memasuki istana raja, tetapi dihadang oleh seekor anjing di depan pintu gerbang. Lalu ia melemparkan sepotong roti untuk mengelabui anjing tadi. Dan ia pun masuk menemui sang raja.</p>
<p>Begitulah, setan adalah anjing yang menggonggong di depan pintu gerbang menuju Allah Ta’ala, menghalangi manusia untuk memasukinya. Padahal pintu itu terbuka, hijabpnya pun tersingkap. Dunia ini ibarat sepotong roti. Siapa yang melemparkannya agar berhasil menggapai kemuliaan Sang Raja, bagaimana mungkin masih memperhitungkannya?</p>
<p>Wallahu a’lam</p>
<p>Diringkas dari buku Tazkiyatun Nafs, Ibnu Rajab Al-Hambali, Ibnu Qayyim Al-Jauiyyah, Imam al-Ghazali, Putaka Arafah dengan perubahah seperlunya oleh redaksi muslimah.or.id</p>
<br />Filed under: <a href='http://djabrik.wordpress.com/category/akhlaq/'>Akhlaq</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/djabrik.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/djabrik.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/djabrik.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/djabrik.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/djabrik.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/djabrik.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/djabrik.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/djabrik.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/djabrik.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/djabrik.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/djabrik.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/djabrik.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/djabrik.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/djabrik.wordpress.com/58/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=djabrik.wordpress.com&amp;blog=58390&amp;post=58&amp;subd=djabrik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://djabrik.wordpress.com/2011/09/23/zuhudlah-terhadap-dunia%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">djabrik</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTm8E7piSWYmT8T8nNC4BuRFPSmajn97DO57hykvn5UNRnDvzYI" medium="image">
			<media:title type="html">Zuhud</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Unaizah (1)</title>
		<link>http://djabrik.wordpress.com/2011/01/17/unaizah-1/</link>
		<comments>http://djabrik.wordpress.com/2011/01/17/unaizah-1/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Jan 2011 09:40:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>djabrik</dc:creator>
				<category><![CDATA[Heart Says]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[sakit]]></category>
		<category><![CDATA[unaizah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://djabrik.wordpress.com/2011/01/17/unaizah-1/</guid>
		<description><![CDATA[Tadi pagi, Unaizah jatuh dari tempat tidur, karena kelalaian abahnya saat menjaganya, saat ibunya sedang sholat shubuh.. Duhh.. Maafkan abah ya dhe.. Filed under: Heart Says, Keluarga<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=djabrik.wordpress.com&amp;blog=58390&amp;post=55&amp;subd=djabrik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tadi pagi, Unaizah jatuh dari tempat tidur, karena kelalaian abahnya saat menjaganya, saat ibunya sedang sholat shubuh..</p>
<p>Duhh..</p>
<p>Maafkan abah ya dhe..</p>
<br />Filed under: <a href='http://djabrik.wordpress.com/category/heart-says/'>Heart Says</a>, <a href='http://djabrik.wordpress.com/category/keluarga/'>Keluarga</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/djabrik.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/djabrik.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/djabrik.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/djabrik.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/djabrik.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/djabrik.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/djabrik.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/djabrik.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/djabrik.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/djabrik.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/djabrik.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/djabrik.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/djabrik.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/djabrik.wordpress.com/55/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=djabrik.wordpress.com&amp;blog=58390&amp;post=55&amp;subd=djabrik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://djabrik.wordpress.com/2011/01/17/unaizah-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">djabrik</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tetap Mesra di Kala Haidh (1)</title>
		<link>http://djabrik.wordpress.com/2009/08/25/tetap-mesra-di-kala-haidh-1/</link>
		<comments>http://djabrik.wordpress.com/2009/08/25/tetap-mesra-di-kala-haidh-1/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Aug 2009 02:30:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>djabrik</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Tangga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://djabrik.wordpress.com/?p=51</guid>
		<description><![CDATA[Haid merupakan lampu merah bagi suami untuk berdekat-dekat dengan istri?Berhenti jugakah segala aktivitas kemesraan pasangan suami istri?Haruskah seorang suami libur dari bermesraan sampai istrinya selesai dari masa nifas? Dr Muslim Muhammad Al Yusuf dalam buku ‘Tetap Mesra Saat Darurat’ menjelaskan kepada kita permasalahan bermesraan di kala haid dan nifas ini. Dikarenakan tulisan beliau panjang, maka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=djabrik.wordpress.com&amp;blog=58390&amp;post=51&amp;subd=djabrik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Haid merupakan lampu merah bagi suami untuk berdekat-dekat dengan istri?Berhenti jugakah segala aktivitas kemesraan pasangan suami istri?Haruskah seorang suami libur dari bermesraan sampai istrinya selesai dari masa nifas? Dr Muslim Muhammad Al Yusuf dalam buku ‘Tetap Mesra Saat Darurat’ menjelaskan kepada kita permasalahan bermesraan di kala haid dan nifas ini.  Dikarenakan tulisan beliau panjang, maka akan kami bagi menjadi dua, yaitu:</p>
<p>Bagian pertama, akan membahas bermesraan di daerah atas pusar dan di bawah lutut.<br />
Bagian kedua, akan membahas bermesraan di daerah bawah pusar dan di atas lutut.<br />
<span id="more-51"></span><br />
Berikut penjelasan Dr. Muslim Muhammad Al Yusuf, semoga bermanfaat</p>
<p>A. Bermesraan dengan Istri yang Haid dan Nifas di Daerah Atas Pusar dan Bawah Lutut</p>
<p>Para ahli ilmu telah sepakat tentang bolehnya bermesraan dengan istri yang sedang haid dan nifas di daerah atas pusar dan bawah lutut, baik dengan ciuman, dekapan, tidur bersama, bercumbuan dan lain sebagainya.1 Dalil-dalil mereka mengenai hal itu adalah sebagai berikut:</p>
<p>Pertama, dalil dari sunnah Nabi yang mulia, yakni antara lain:</p>
<p>Dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anhuma, ia berkata,</p>
<blockquote><p> ”Apabila salah seorang di antara kami sedang haid, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam biasa menyuruhnya mengenakan kain sarung di tempat keluarnya haid, lalu beliau mencumbuinya.” Aisyah melanjutkan, “Dan siapakah di antara kalian yang mampu menguasai hajatnya, sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dahulu mampu menguasai hajatnya?”</p></blockquote>
<p>Dari hadits ini, dapat disimpulkan bolehnya bermesraan dengan istri yang sedang haid dan nifas di daerah atas pusar dan bawah lutut. Karena arti, “mengenakan kain sarung (ta’taziru),” adalah mengikatkan kain sarung yang bisa menutupi pusarnya dan daerah bawahnya sampai lutut.</p>
<p>DariMaimunah radhiyallahu anhuma, ia berkata,</p>
<blockquote><p>“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam biasa mencumbui istri-istrinya di atas kain sarung, saat mereka haid.”</p></blockquote>
<p>Dari Aisyah radhiyallahu anha, ia berkata:</p>
<blockquote><p> “Apabila salah seorang di antara kami haid, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam biasa menyuruhnya (mengambil kain sarung). Ia pun mengikatkan kain sarungnya, lalu beliau mencumbunya”</p></blockquote>
<p>Dari Haram bin Hakim, dari pamannya, bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam :</p>
<blockquote><p>”Apa yang halal bagiku sebagai suami terhadap istriku, saat ia haid?” Beliau menjawab, “Bagimu daerah atas kain sarungnya.”</p></blockquote>
<p>Semua hadits ini, baik secara tersurat maupun tersirat, menunjukkan bolehnya bermesraan dengan istri yang sedang haid dan nifas di daerah atas pusar dan bawah lutut, dengan berbagai gaya bermesraan. </p>
<p>Kedua, dalil dari ijmak</p>
<p>Para ahli ilmu telah berijmak tentang bolehnya bermesraan dengan istri yang sedang haid dan nifas di daerah atas pusar dan bawah lutut, dan tidak ada seorang pun dari mereka yang berbeda pendapat tentang hal tersebut.6Bersambung pada tulisan kedua insya Allah.</p>
<p>Di salin dari buku: “Tetap Mesra Saat Darurat” – Dr. Muslim Muhammad Al-Yusuf,Penerbit Zam-Zam, Solo.Cet 1 – 2008, hal: 58-74<br />
Catatan kaki:</p>
<p>   1. Ahkamul Qur’an, karya Al-Jashshash, II: 21; Mukhtashar Khalil wa Jawahirul Iklil, 1:31; Bidayatul Mujtahid, 1: 49; Al-Jami’ lil Ahkamil Qur’an, III: 87; Al-Majmu’, II : 364; Mughniyyul Muhtaj, 1: 120; Al-Mughni, 1: 333; Majmu’ul Fatawa, 1: 624; dan Nailul Authar, 1: 323<br />
   2. Diriwayatkan oleh Asy-Syaikhani  yaitu Bukhari dan Muslim<br />
   3. Diriwayatkan oleh Muslim<br />
   4. Diriwayatkan oleh Muslim<br />
   5. Diriwayatkan oleh Baihaqi dalam As-Sunanul Kubra. Hadits semisal ini juga diriwayatkan dari Ashim bin Umar. Demikian pula diriwayatkan oleh Darimi dari seorang laki-laki yang namanya tidak disebutkan<br />
   6. Lihat Fathul Qadir, I : 167; Al-Umm, I : 51; Al-Mughni, 1: 333; Majmu’ul Fatawa, XXI:642; Bidayatul Mujtahid, I:49; dan Tuhfatul Ahwadzi, I: 350</p>
<br />Posted in Uncategorized  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/djabrik.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/djabrik.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/djabrik.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/djabrik.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/djabrik.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/djabrik.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/djabrik.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/djabrik.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/djabrik.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/djabrik.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/djabrik.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/djabrik.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/djabrik.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/djabrik.wordpress.com/51/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=djabrik.wordpress.com&amp;blog=58390&amp;post=51&amp;subd=djabrik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://djabrik.wordpress.com/2009/08/25/tetap-mesra-di-kala-haidh-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">djabrik</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Istri Shalihah Mencintai Ilmu</title>
		<link>http://djabrik.wordpress.com/2009/08/19/istri-shalihah-mencintai-ilmu/</link>
		<comments>http://djabrik.wordpress.com/2009/08/19/istri-shalihah-mencintai-ilmu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Aug 2009 10:36:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>djabrik</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://djabrik.wordpress.com/?p=47</guid>
		<description><![CDATA[Saudaraku, para suami yang shalih… Ingatlah bahwa salah satu tanda istri yang shalihah adalah penuh perhatian dan cinta kepada ilmu. Bila sifat itu belum ada pada istrimu maka doronglah ia kepadanya. Dan jika sudah, maka usahakanlah untuk memberi kelapangan jalan untuk menuju ke sana. Memang, pada ilmu terdapat kenikmatan dan pada kebodohan bersemayam segudang penderitaan. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=djabrik.wordpress.com&amp;blog=58390&amp;post=47&amp;subd=djabrik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saudaraku, para suami yang shalih…<br />
Ingatlah bahwa salah satu tanda istri yang shalihah adalah penuh perhatian dan cinta kepada ilmu. Bila sifat itu belum ada pada istrimu maka doronglah ia kepadanya. Dan jika sudah, maka usahakanlah untuk memberi kelapangan jalan untuk menuju ke sana. Memang, pada ilmu terdapat kenikmatan dan pada kebodohan bersemayam segudang penderitaan.</p>
<p>‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha telah memuji wanita Anshor karena cinta mereka kepada ilmu. Ia berkata:</p>
<blockquote><p>&#8220;sebaik-baik wanita adalah wanita Anshor. Rasa malu tidak menghalangi mereka memperdalam agama.”[HR.Bukhari]</p></blockquote>
<p><span id="more-47"></span></p>
<p>Karena itu bantulah ia dan berikanlah kesempatan serta fasilitas untuk menambah khazanah ilmunya. Temanilah ia dan tidak ada salahnya engkau menggantikan tugasnya menjaga anak-anak agar istrimu bisa menghadiri majelis-majelis ilmu dan mendengarkan nasehat yang berharga.</p>
<p>Untuk memenuhi anjuran ini usahakan agar rumahmu ada perpustakaan, meskipun sederhana. Milikilah sarana pengetahuan yang bervariasi, seperti buku, radio, tape recorder ataupun CD-CD yang bermanfaat.</p>
<p>Ingatlah, semakin bertambah ketaqwaan dan keshalihan istrimu, maka engkaulah orang pertama yang akan menikmatinya.</p>
<p>Sungguh mengherankan, ada suami yang sepertinya merasa takut apabila istrinya lebih berilmu daripadanya. Ada juga suami yang giat berda’wah dan menyebarkan ilmu di tengah masyarakat, sementara ia biarkan istrinya hidup dalam kebodohan. Ia merana dan merugi serta tidak berkembang pengetahuannya.</p>
<p>Apakah Rasulullooh shololloohi ‘alahi wassalaam memang mengajari kira seperti itu?</p>
<p>Sekali-kali tidak, bahkan beliau adalah sosok suami yang memberikan perhatian penuh kepada keluarganya. Beliau membagi waktunya, sebagian untuk Robb-Nya, sebagian untuk keluarganya,dan sebagian lagi untuk ummatnya.</p>
<p>Rasulullah shololloohu ‘alahi wassalaam bersabda:</p>
<blockquote><p>    “Sesungguhnya istrimu punya hak atasmu, tamumu punya hak atasmu dan jasadmu juga punya hak atasmu”[HR.Muslim]</p></blockquote>
<p>Nabi shololloohu ‘alahi wassalaam juga membenarkan ucapan Salman yang berkata,</p>
<blockquote><p>”Sesungguhnya Robbmu punya hak atasmu, dirimu punya hak atasmu, keluargamu juga punya hak atasmu maka berikanlah setiap orang haknya.”HR.Bukhari</p></blockquote>
<p><em>ditulis ulang oleh Ummu Tsaqiif dari buku Surat Terbuka untuk Suami, Ustad Abu Ihsan dan Ummu Ihsan, Pustaka Darul Ilmii</em></p>
<br />Posted in Keluarga  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/djabrik.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/djabrik.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/djabrik.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/djabrik.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/djabrik.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/djabrik.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/djabrik.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/djabrik.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/djabrik.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/djabrik.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/djabrik.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/djabrik.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/djabrik.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/djabrik.wordpress.com/47/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=djabrik.wordpress.com&amp;blog=58390&amp;post=47&amp;subd=djabrik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://djabrik.wordpress.com/2009/08/19/istri-shalihah-mencintai-ilmu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">djabrik</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
