<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Cangkruane Kang Abbas</title>
	<atom:link href="http://djabrik.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://djabrik.wordpress.com</link>
	<description>Uneg-unegnya Cah Ndeso</description>
	<lastBuildDate>Tue, 25 Aug 2009 02:30:06 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='djabrik.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/c1c0f165aa32f6f0b9f2a50f07ca4b2d?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Cangkruane Kang Abbas</title>
		<link>http://djabrik.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Tetap Mesra di Kala Haidh (1)</title>
		<link>http://djabrik.wordpress.com/2009/08/25/tetap-mesra-di-kala-haidh-1/</link>
		<comments>http://djabrik.wordpress.com/2009/08/25/tetap-mesra-di-kala-haidh-1/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Aug 2009 02:30:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>djabrik</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Tangga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://djabrik.wordpress.com/?p=51</guid>
		<description><![CDATA[Haid merupakan lampu merah bagi suami untuk berdekat-dekat dengan istri?Berhenti jugakah segala aktivitas kemesraan pasangan suami istri?Haruskah seorang suami libur dari bermesraan sampai istrinya selesai dari masa nifas? Dr Muslim Muhammad Al Yusuf dalam buku ‘Tetap Mesra Saat Darurat’ menjelaskan kepada kita permasalahan bermesraan di kala haid dan nifas ini.  Dikarenakan tulisan beliau panjang, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=djabrik.wordpress.com&blog=58390&post=51&subd=djabrik&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Haid merupakan lampu merah bagi suami untuk berdekat-dekat dengan istri?Berhenti jugakah segala aktivitas kemesraan pasangan suami istri?Haruskah seorang suami libur dari bermesraan sampai istrinya selesai dari masa nifas? Dr Muslim Muhammad Al Yusuf dalam buku ‘Tetap Mesra Saat Darurat’ menjelaskan kepada kita permasalahan bermesraan di kala haid dan nifas ini.  Dikarenakan tulisan beliau panjang, maka akan kami bagi menjadi dua, yaitu:</p>
<p>Bagian pertama, akan membahas bermesraan di daerah atas pusar dan di bawah lutut.<br />
Bagian kedua, akan membahas bermesraan di daerah bawah pusar dan di atas lutut.<br />
<span id="more-51"></span><br />
Berikut penjelasan Dr. Muslim Muhammad Al Yusuf, semoga bermanfaat</p>
<p>A. Bermesraan dengan Istri yang Haid dan Nifas di Daerah Atas Pusar dan Bawah Lutut</p>
<p>Para ahli ilmu telah sepakat tentang bolehnya bermesraan dengan istri yang sedang haid dan nifas di daerah atas pusar dan bawah lutut, baik dengan ciuman, dekapan, tidur bersama, bercumbuan dan lain sebagainya.1 Dalil-dalil mereka mengenai hal itu adalah sebagai berikut:</p>
<p>Pertama, dalil dari sunnah Nabi yang mulia, yakni antara lain:</p>
<p>Dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anhuma, ia berkata,</p>
<blockquote><p> ”Apabila salah seorang di antara kami sedang haid, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam biasa menyuruhnya mengenakan kain sarung di tempat keluarnya haid, lalu beliau mencumbuinya.” Aisyah melanjutkan, “Dan siapakah di antara kalian yang mampu menguasai hajatnya, sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dahulu mampu menguasai hajatnya?”</p></blockquote>
<p>Dari hadits ini, dapat disimpulkan bolehnya bermesraan dengan istri yang sedang haid dan nifas di daerah atas pusar dan bawah lutut. Karena arti, “mengenakan kain sarung (ta’taziru),” adalah mengikatkan kain sarung yang bisa menutupi pusarnya dan daerah bawahnya sampai lutut.</p>
<p>DariMaimunah radhiyallahu anhuma, ia berkata,</p>
<blockquote><p>“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam biasa mencumbui istri-istrinya di atas kain sarung, saat mereka haid.”</p></blockquote>
<p>Dari Aisyah radhiyallahu anha, ia berkata:</p>
<blockquote><p> “Apabila salah seorang di antara kami haid, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam biasa menyuruhnya (mengambil kain sarung). Ia pun mengikatkan kain sarungnya, lalu beliau mencumbunya”</p></blockquote>
<p>Dari Haram bin Hakim, dari pamannya, bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam :</p>
<blockquote><p>”Apa yang halal bagiku sebagai suami terhadap istriku, saat ia haid?” Beliau menjawab, “Bagimu daerah atas kain sarungnya.”</p></blockquote>
<p>Semua hadits ini, baik secara tersurat maupun tersirat, menunjukkan bolehnya bermesraan dengan istri yang sedang haid dan nifas di daerah atas pusar dan bawah lutut, dengan berbagai gaya bermesraan. </p>
<p>Kedua, dalil dari ijmak</p>
<p>Para ahli ilmu telah berijmak tentang bolehnya bermesraan dengan istri yang sedang haid dan nifas di daerah atas pusar dan bawah lutut, dan tidak ada seorang pun dari mereka yang berbeda pendapat tentang hal tersebut.6Bersambung pada tulisan kedua insya Allah.</p>
<p>Di salin dari buku: “Tetap Mesra Saat Darurat” – Dr. Muslim Muhammad Al-Yusuf,Penerbit Zam-Zam, Solo.Cet 1 – 2008, hal: 58-74<br />
Catatan kaki:</p>
<p>   1. Ahkamul Qur’an, karya Al-Jashshash, II: 21; Mukhtashar Khalil wa Jawahirul Iklil, 1:31; Bidayatul Mujtahid, 1: 49; Al-Jami’ lil Ahkamil Qur’an, III: 87; Al-Majmu’, II : 364; Mughniyyul Muhtaj, 1: 120; Al-Mughni, 1: 333; Majmu’ul Fatawa, 1: 624; dan Nailul Authar, 1: 323<br />
   2. Diriwayatkan oleh Asy-Syaikhani  yaitu Bukhari dan Muslim<br />
   3. Diriwayatkan oleh Muslim<br />
   4. Diriwayatkan oleh Muslim<br />
   5. Diriwayatkan oleh Baihaqi dalam As-Sunanul Kubra. Hadits semisal ini juga diriwayatkan dari Ashim bin Umar. Demikian pula diriwayatkan oleh Darimi dari seorang laki-laki yang namanya tidak disebutkan<br />
   6. Lihat Fathul Qadir, I : 167; Al-Umm, I : 51; Al-Mughni, 1: 333; Majmu’ul Fatawa, XXI:642; Bidayatul Mujtahid, I:49; dan Tuhfatul Ahwadzi, I: 350</p>
Posted in Uncategorized  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/djabrik.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/djabrik.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/djabrik.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/djabrik.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/djabrik.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/djabrik.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/djabrik.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/djabrik.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/djabrik.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/djabrik.wordpress.com/51/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=djabrik.wordpress.com&blog=58390&post=51&subd=djabrik&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://djabrik.wordpress.com/2009/08/25/tetap-mesra-di-kala-haidh-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">djabrik</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Istri Shalihah Mencintai Ilmu</title>
		<link>http://djabrik.wordpress.com/2009/08/19/istri-shalihah-mencintai-ilmu/</link>
		<comments>http://djabrik.wordpress.com/2009/08/19/istri-shalihah-mencintai-ilmu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Aug 2009 10:36:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>djabrik</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://djabrik.wordpress.com/?p=47</guid>
		<description><![CDATA[Saudaraku, para suami yang shalih…
Ingatlah bahwa salah satu tanda istri yang shalihah adalah penuh perhatian dan cinta kepada ilmu. Bila sifat itu belum ada pada istrimu maka doronglah ia kepadanya. Dan jika sudah, maka usahakanlah untuk memberi kelapangan jalan untuk menuju ke sana. Memang, pada ilmu terdapat kenikmatan dan pada kebodohan bersemayam segudang penderitaan.
‘Aisyah rodhiyallahu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=djabrik.wordpress.com&blog=58390&post=47&subd=djabrik&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Saudaraku, para suami yang shalih…<br />
Ingatlah bahwa salah satu tanda istri yang shalihah adalah penuh perhatian dan cinta kepada ilmu. Bila sifat itu belum ada pada istrimu maka doronglah ia kepadanya. Dan jika sudah, maka usahakanlah untuk memberi kelapangan jalan untuk menuju ke sana. Memang, pada ilmu terdapat kenikmatan dan pada kebodohan bersemayam segudang penderitaan.</p>
<p>‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha telah memuji wanita Anshor karena cinta mereka kepada ilmu. Ia berkata:</p>
<blockquote><p>&#8220;sebaik-baik wanita adalah wanita Anshor. Rasa malu tidak menghalangi mereka memperdalam agama.”[HR.Bukhari]</p></blockquote>
<p><span id="more-47"></span></p>
<p>Karena itu bantulah ia dan berikanlah kesempatan serta fasilitas untuk menambah khazanah ilmunya. Temanilah ia dan tidak ada salahnya engkau menggantikan tugasnya menjaga anak-anak agar istrimu bisa menghadiri majelis-majelis ilmu dan mendengarkan nasehat yang berharga.</p>
<p>Untuk memenuhi anjuran ini usahakan agar rumahmu ada perpustakaan, meskipun sederhana. Milikilah sarana pengetahuan yang bervariasi, seperti buku, radio, tape recorder ataupun CD-CD yang bermanfaat.</p>
<p>Ingatlah, semakin bertambah ketaqwaan dan keshalihan istrimu, maka engkaulah orang pertama yang akan menikmatinya.</p>
<p>Sungguh mengherankan, ada suami yang sepertinya merasa takut apabila istrinya lebih berilmu daripadanya. Ada juga suami yang giat berda’wah dan menyebarkan ilmu di tengah masyarakat, sementara ia biarkan istrinya hidup dalam kebodohan. Ia merana dan merugi serta tidak berkembang pengetahuannya.</p>
<p>Apakah Rasulullooh shololloohi ‘alahi wassalaam memang mengajari kira seperti itu?</p>
<p>Sekali-kali tidak, bahkan beliau adalah sosok suami yang memberikan perhatian penuh kepada keluarganya. Beliau membagi waktunya, sebagian untuk Robb-Nya, sebagian untuk keluarganya,dan sebagian lagi untuk ummatnya.</p>
<p>Rasulullah shololloohu ‘alahi wassalaam bersabda:</p>
<blockquote><p>    “Sesungguhnya istrimu punya hak atasmu, tamumu punya hak atasmu dan jasadmu juga punya hak atasmu”[HR.Muslim]</p></blockquote>
<p>Nabi shololloohu ‘alahi wassalaam juga membenarkan ucapan Salman yang berkata,</p>
<blockquote><p>”Sesungguhnya Robbmu punya hak atasmu, dirimu punya hak atasmu, keluargamu juga punya hak atasmu maka berikanlah setiap orang haknya.”HR.Bukhari</p></blockquote>
<p><em>ditulis ulang oleh Ummu Tsaqiif dari buku Surat Terbuka untuk Suami, Ustad Abu Ihsan dan Ummu Ihsan, Pustaka Darul Ilmii</em></p>
Posted in Keluarga  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/djabrik.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/djabrik.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/djabrik.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/djabrik.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/djabrik.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/djabrik.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/djabrik.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/djabrik.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/djabrik.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/djabrik.wordpress.com/47/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=djabrik.wordpress.com&blog=58390&post=47&subd=djabrik&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://djabrik.wordpress.com/2009/08/19/istri-shalihah-mencintai-ilmu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">djabrik</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Aku Datang Maisya&#8230;</title>
		<link>http://djabrik.wordpress.com/2009/08/18/aku-datang-maisya/</link>
		<comments>http://djabrik.wordpress.com/2009/08/18/aku-datang-maisya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Aug 2009 14:56:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>djabrik</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://djabrik.wordpress.com/?p=43</guid>
		<description><![CDATA[
Aku telah dilanda keinginan mengebu untuk menikah. Bahkan sudah kujalani semua cara agar cepat bisa melaksanakan sunah Rasul yang satu ini. Malah aku selalu mengimpikannya di tiap malam menjelang tidur.
Gadis yang kuidamkan sejak kecil, bahkan menjadi teman main bersama, ternyata dinikahi orang lain. Padahal dia sudah ngaji. Sedih juga rasanya. Ada juga yang aku dapatkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=djabrik.wordpress.com&blog=58390&post=43&subd=djabrik&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>
Aku telah dilanda keinginan mengebu untuk menikah. Bahkan sudah kujalani semua cara agar cepat bisa melaksanakan sunah Rasul yang satu ini. Malah aku selalu mengimpikannya di tiap malam menjelang tidur.</p>
<p>Gadis yang kuidamkan sejak kecil, bahkan menjadi teman main bersama, ternyata dinikahi orang lain. Padahal dia sudah ngaji. Sedih juga rasanya. Ada juga yang aku dapatkan dari orang yang aku kenal baik, dan sudah kujalani “prosedurnya”. Tapi ternyata kandas karena aku dinilai masih terlalu muda untuk menikah.</p>
<p>Akhirnya , aku kenal dengan seseorang yang sesuai dengan kriteria. Aku mengenalnya dengan perantaraan teman dekatku. Jujur saja, aku telah mendapat biodatanya, juga gambaran wajahnya. Langsung saja kukatakan pada teman dekatku bahwa aku sangat-sangat setuju.</p>
<p><span id="more-43"></span><br />
“Eh, ente (kamu) harus ketemu dulu dan tahu dengan baik siapa dia,” kata temanku.</p>
<p>Tapi kujawab enteng, “Tapi ane (aku) langsung sreg kok”.</p>
<p>“Ya sudah, terserah ente aja lah,” sahut temanku sambil geleng-geleng kepala.</p>
<p>Karena aku yakin pacaran jelas-jelas dilarang dalam Islam sebab hal itu adalah jalan menuju zina, aku pun tak menjalaninya. Jangankan zina, hal-hal yang akan mengarahkan kepadanya saja sudah dilarang. Oleh karena itu, aku hanya menunggu waktu kapan ada pembicaraan awal antara aku dan Maisya (akhwat incaranku itu). Sabar deh, sementara ikuti saja seperti air mengalir.</p>
<p>Lewat kurang lebih 2-3 minggu mulailah terjadi pembicaraan antar aku dan Maisya. Ketika kuberanikan diri memulai pada poin yang penting yaitu mengungkapkan niatku untuk menikahinya, apa jawabnya? Aku disuruh menghadap murabbinya (guru/pembimbing) .</p>
<p>“Kenapa tidak ke orang tua Maisya saja?” tanyaku.</p>
<p>“Tidak, pokoknya akhi (saudara lelaki) harus ketemu dulu sama Murabbi saya.” jawabnya.</p>
<p>Aku baru tahu, ada seorang akhwat ketika ada yang ingin menikahinya disuruh menghadap Murabbinya, bukan orang tuanya. Padahal, di antara birrul walidain adalah menjadikan orang tua sebagai orang yang pertama kali diajak diskusi tentang pernikahan, bukan gurunya, ustadznya, atau siapa pun. Barulah kutahu itu merupakan kebiasaan akhwat-akhwat tarbiyah (pergerakan) .</p>
<p>***</p>
<p>Aku catat alamat murabbi (MR) yang Maisya sebutkan. Pada hari Ahad kuajak 2 teman dekatku untuk menemani ke rumah sang MR. Dengan sedikit kesasar akhirnya sampailah kami di rumahnya. Tapi setelah pencet tombol tiga kali dan “Assalamu’alaikum” tiga kali tak dibuka, kami pun pulang dengan agak kecewa, sebab siang itu adalah jam 2, saat matahari sangat terik menyengat.</p>
<p>Kutelepon Maisya bahwa aku tak bisa ketemu MR-nya. Maisya membolehkanku hanya dengan menelepon MR. Malam itu juga aku pun menelepon dan alhamdulillah nyambung. Aku ditanya segala macam yang berkaitan dengan agama. Dari masalah belajar, kerja, ngaji, tarbiyah, murabbi-ku, ustadz yang sering kuikuti kajiannya, sampai buku-buku yang sering kubaca. Juga, pertanyaan-pertanya an tambahan lainnya.</p>
<p>Dengan polos dan santai kujawab pertanyaan-pertanya an itu. Yang membuatku heran, ketika kusebutkan nama ustadz-ustadz yang sering kuikuti kajiannya sampai, nada MR agak beda dari awal pembicaraan. Terutama ketika kusebutkan kitab-kitab yang sering kujadikan rujukan dalam memahami agama. Aku belum tahu kenapa bisa begitu.</p>
<p>Kuceritakan pembicaraan itu pada teman dekatku. Ternyata temanku menjawab dengan nada menyesal.</p>
<p>“Aduh, kenapa tidak bicarakan dulu denganku. Ente tahu? Kalau akan menikahi akhwat tarbiyah sedang ente tidak ikut dalam tarbiyah atau liqa’ tertentu dan punya MR, maka ente otomais akan ditolak. Apalagi ente sebutkan nama-nama ustadz, buku-buku dan para syeikh Timur Tengah, bakalan ditolak deh, itu sudah ma’ruf (populer).”</p>
<p>“Lho kan ane jawab jujur, saat ini ane tidak ikut tarbiyah, atau apa namanya tadi, liqa’? Ya memang aku tak ikut. Ane juga nggak punya MR dong. Oo.., jadi begitu ya?” aku hanya melongo.</p>
<p>***</p>
<p>Beberapa hari kemudian, aku dapat telpon dari Maisya yang menjadikan hatiku sedikit hancur.</p>
<p>“Assalamu’alaikum, akhi saya sudah mempertimbangkan semuanya, mungkin Allah belum menakdirkan kita berjodoh. Semoga kita sama-sama mendapatkan yang terbaik untuk pasangan kita, saya minta maaf, kalau ada kesalahan selama ini, Assalamu’alaikum,”</p>
<p>“Kletuk, nuut nuut nuut” terdengar suara gagang telpon ditutup dan nada sambung terputus.</p>
<p>Aku masih memegang gagang telepon dan hanya bisa melongo mendapat jawaban tersebut. Kutaruh gagang telpon dengan lunglai. “Astagfirullah,” kusebut kata-kata itu berulang kali. Apa yang harus kuperbuat? Tak tahu harus bagaimana. Tapi sohib dekatku yang dari tadi memperhatikanku waktu menelepon nyeletuk .</p>
<p>“Ditolak ya? Udah deh, kan masih banyak harem (wanita) lain, ngapain ngejar-ngejar ngapain ngejar-ngejar yang sudah jelas-jelas nolak.”</p>
<p>Aku jawab saja dengan ketus, “Ane belum nyerah, karena ada janggal dalam pemolakan it, ane belum yakin dia menolak, akan ane coba lagi”.</p>
<p>“Udah deh jangan terlalu PD,” sahut sohibku.</p>
<p>Ternyata bener juga kata temanku itu, jawaban-jawabanku kepada MR menyebabkan aku ditolak oleh Maisya. Aku dipandang beda manhaj dalam memahami Islam, padahal yang kusebutkan waktu menjawab pertanyaan tentang buku-buku rujukan adalah Fathul Majiid, Al-Ushul Al-Tsalatsah, dan kitab-kitab karya Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, Syeikh Abdul Aziz bin Baz, Syeikh Muhammad Shalih Utsaimin, yang semuanya aku tahu bahwa mereka selalu mendasarkan bahasannya kepada dalil-dalil yang shahih.</p>
<p>Hatiku sudah terlanjur cocok sama Maisya. Jujur aku sudah merasa sreg sekali kalau Maisya jadi pendamping hidupku. Tapi aku ditolak. “Apa yang harus kuperbuat?” kataku dalam hati. Menyerah kemudian mencari yang lain? Baru begitu saja kok nyerah.</p>
<p>Tanpa sepengetahuan sohibku, kutulis surat ke orangtua Maisya. Yang kutahu bahwa dia hanya punya ibu. Bapaknya sudah meninggal saat Maisya berumur 8 tahun. Kutulis surat yang isinya kurang lebih tentang proses penolakan itu. Juga janjiku jika ditolak oleh ibunya, maka aku akan menerima dan tak akan menghubunginya lagi.</p>
<p>Dengan penuh harap kukirim surat tersebut, tak disangka ternyata surat itu sampai di tangan Maisya dan dibacanya. Alamak, kenapa bisa begitu? Untuk beberapa hari tidak ada respon. Gundah gulana pun datang. Apa yang harus kulakukan?</p>
<p>Kuputuskan untuk mengirim surat ke Maisya langsung. Semuanya aku ungkapkan dengan bahasa setengah resmi tapi santai. Aku memang sedikit ndableg. Di penghujung surat tersebut kukatakan, “Kalau memang Allah takdirkan kita tidak jodoh, saya punya satu permintaan, tolonglah saya untuk mendapatkan pendamping dari teman-teman Maisya yang Maisya pandang pas untuk saya, minimal yang seperti Maisya.”</p>
<p>Kupikir Maisya akan “tersungkur” dengan membaca suratku yang panjang lebar. Aku berpikir seandainya ada orang membaca suratku, pasti akan mengatakan “rayuan gombal!”. Tapi jujur saja, itu berangkat dari hatiku yang paling dalam.</p>
<p>Surat kedua itu, qadarallah ternyata malah diterima dan dibaca oleh ibu Maisya dan kakak perempuannya. Nah, dari situkah terjadi kontak antara aku dan keluarganya. Tak disangka-sangka kudapat telpon dari kakak perempuan Maisya, Kak Dahlia (tentu saja bukan nama asli). Kak Dahlia menelepon dan memintaku untuk datang ke rumahnya guna klarifikasi surat tersebut.</p>
<p>***</p>
<p>Seminggu kemudian kupeniuhi undangan itu. Setelah bertemu dan “sesi tanya-jawab” , dengan manggut-manggut akhirnya Kak Dahlia angkat bicara,</p>
<p>“Baiklah, kakak sudah dengar cerita kamu, saya heran kenapa Maisya menolakmu, ya?</p>
<p>Padahal menurut hemat kakak, kamu pantas diterima kok”.</p>
<p>Hatiku berbunga-bunga mendengarnya, . Tapi langsung surut lagi karena pernyataan itu datang dari Kak Dahlia bukan Maisya. Aku sedikit senyum kecut menanggapi omongan kak Dahlia.</p>
<p>“Begini aja deh, kamu sekarang pulang dulu. Biar nanti kakak dan Umi yang akan rayu Maisya. Pokoknya kamu banyak doa aja. Pada dasarnya kami setuju kok sama kamu.”</p>
<p>Aku izin pulang dengan sedikit riang gembira. Mulutku hanya bergumam penuh doa, semoga Allah mengabulkan cita-citaku. Kira-kira 2 minggu setelah itu kudapat telpon lagi dari Kak Dahlia agar aku ke rumahnya. Dia bilang aku harus bertemu langsung dengan Maisya. Hatiku pun berdebar. Dengan sedikit gagap aku iyakan undangan itu. “Besok deh Kak, insyaAllah saya datang,” jawabku.</p>
<p>Aku duduk di kursi ruang tamu yang sama untuk kedua kalinya. Sedikit basa-basi Kak Dahlia mengajakku ngobrol tentang hal-hal yang belum ditanyakan pada pertemuan sebelumya. Kurang lebih 10-15 menit Kak Dahlia memanggil Maisya agar ke ruang tamu menemuiku. Dadaku berdegub. Inilah saatnya aku nadhar (melihat) bagaimana rupa Maisya yang sebenarnya. Apa sama seperti yang kubayangkan sebelumnya?</p>
<p>Jangan-jangan tidak sama. Lebih jelek atau bahkan lebih cakep dari aslinya. Tunggu saja deh.</p>
<p>Tidak lama kemudian keluarlah sosok makhluk Allah yang bernama Maisya. Aku tetap menjaga pandanganku. Tapi jujur saja, tak kuasa kucuri pandang untuk yang pertama kalinya. Bahkan seharusnya untuk acara nadhar biasanya lebih dari mencuri pandang, karena memang dianjurkan oleh Rasulullah. Tapi bagiku sangat cukup melihatnya sekali-kali. Aku hanya bisa mengatakan dalam hatiku tentang Maisya, subhanallah! Aku tak bisa ceritakan kepada pembaca karena itu hanya untukku saja.</p>
<p>Tak sadar keringat dingin mengalir dari pelipis. Ada apa gerangan? Kenapa rasanya agak grogi? Ah, aku harus teguh dan tangguh hadapi semua ini. Obrolan pun mulai bergulir. Dari mulai pertanyaan-pertanya an agama secara umum sampai diskusi tentang kerumahtanggaan. Kurang lebih satu jam aku di rumah itu. Aku pun pamit sambil memberikan hadiah-hadiah buku-buku kecil tentang agama.</p>
<p>Di bus kota aku senyum-senyum sendirian. Seakan-akan bus itu adalah bus patas AC padahal sebenarnya hanya bus ekonomi yang panas dan penuh asap rokok. Tapi semua itu tidak kurasakan. Kuberdoa semoga rayuan Kak Dahlia berhasil.</p>
<p>Ternyata benar, beberapa hari kemudian aku ditelepon Maisya, kali ini menanyakan kelanjutan proses kami kemarin. Kujawab jika dibolehkan akan kuajak keluargaku di waktu yang kutentukan. Di penghujung pembicaraan, Maisya setuju dengan tawaranku.</p>
<p>Kutanya ke sana ke mari tentang barang-barang apa yang pantas dibawa ketika meng-khitbah seorang wanita. Kubeli sebuah koper kecil dan kuisi dengan barang-barang seperti bahan pakaian, komestik, sepatu, dan sebagainya. Tak lupa aku bawakan buah-buahan seadanya. Hal ini sebenarnya sudah kutanyakan kepada Maisya, tapi Maisya hanya menjawab terserah aku mau bawa apa saja pasti dia akan terima. Duh…, senangnya.</p>
<p>Sebelumnya aku lupa, ternyata Maisya masih punya darah Arab dari ibunya. Bahkan, ibunya punya nasab Arab yang dikenal di Indonesia sebagai Habib (Orang Arab yang mengaku punya garis nasab langsung dengan Rasulullah). Padahal setahuku Rasulullah tak punya keturunan laki-laki yang kemudian punya anak. Yang ada hanya Fatimah yang diperistri oleh Ali bin Abi Thalib. Sedangkan dalam Islam, darah nasab hanya sah dari garis bapak atau lelaki. Jadi, mungkin yang dimaksud mereka adalah keturunan dari Ali bin Abi Thalib.</p>
<p>Satu hal yang perlu diketahui, bahwa dalam adat orang Arab terutama golongan Habaib atau Habib, wanita mereka pantang dinikahi oleh non Arab. Bahkan, sebagian mengharamkannya. Alasan yang populer adalah mereka merasa lebih mulia dari keturunan non Arab. Bahkan, sebagian mengharamkannya. Aku pun harus siap dengan apa yang akan aku hadapi nanti. Bisa jadi ditolak atau tidak. Dan yang ada di depan mataku adalah ditolak.</p>
<p>Aku datang sekeluarga dengan naik Taksi. Aku tidak punya mobil. Dari mana aku punya mobil sedangkan aku baru bekerja setahun? Sambutan hambar kudapatkan ketika memasuki ruang tamu. Di situ sudah hadir ibu-ibu yang merupakan keluarga besar dari ibu Maisya. Anehnya,di acara itu tidak hadir laki-laki dari pihak keluarga besar Maisya.</p>
<p>Kemudian acara dilanjutkan dengan saling memberi sambutan. Namun yang kutunggu hanya momen di mana Maisya menerima lamaranku dari mulutnya sendiri. Saat itu pun tiba. Dengan agak malu-malu dan terbata-bata Maisya menerima lamaranku.</p>
<p>Diakhir acara ketika hari penentuan hari “H” dan bentuk acaranya. Ada salah satu dari anggota keluarga Maisya yang menanyakan uang untuk walimah nanti. Aku hanya menjawab bahwa hal itu sudah kubicarakan dengan Maisya. Tapi dia memaksaku untuk menyebutkan jumlahnya. Aku tetap tak mau menyebutkan. Rupanya orang tadi kecewa berat dengan jawabanku.</p>
<p>Setelah acara selesai, aku pamit. Sedikit lega kulalui detik-detik mendebarkan. Aku bersyukur kepada Allah yang meloloskan diriku pada babak berikutnya dalam usaha mengamalkan sunah Rasulullah yang mulia ini.</p>
<p>Ternyata ujian belum selesai juga. Maisya didatangi keluarga besarnya dengan membawa lelaki yang akan dijodohkan dengannya. Lamaranku ditimpa oleh lamaran orang lain.</p>
<p>Orang yang akan dijodohkan dengan Maisya masih punya hubungan keluarga. Mereka datang dengan mobil, membawa makanan banyak sekali, uang lamaran, dan juga perhiasan.</p>
<p>Apa yang kubawa kemarin tidak ada apa-apanya dibanding dengan yang dibawa pelamar kedua ini. Tapi subhanallah, apa yang Maisya lakukan? Maisya tak mau menemuinya. Maisya tak menerima lamarannya.</p>
<p>Bahkan setelah rombongan itu pulang dan meninggalkan bawaan mereka sebagai lamaran untuk Maisya, apa yang Maisya lakukan? “Kembalikan semua barang bawaannya dan jangan ada yang menyentuh walau untuk mencicipi makanan, kembalikan dan jangan ada yang tersisa di rumah ini.” Aku dapatkan cerita ini dari kak Dahlia yang meneleponku.</p>
<p>Mendengar semua ini, tak terasa air mataku menetes membasahi pipiku. Padahal aku adalah lelaki yang selama ini selalu berpantang untuk menangis. Saat itulah aku mulai yakin bahwa Maisya harus kudapatkan, sekali pun harus menghadapi hal-hal yang menyakiti hatiku.</p>
<p>***</p>
<p>Beberapa hari kemudian aku mendapat telepon dari seorang ibu yang mengaku bibi Maisya. Ketika kutanya namanya dia tak mau menyebutkan. Malah dia nyerocos panjang lebar tentang acara lamaranku kepada Maisya. Dengan nada sinis dan tinggi dia mulai merayuku untuk membatalkan lamaranku. “Saya kasih tau ya! Kamu kan baru bekerja belum satu tahun, belum punya rumah dan mobil. Sedangkan Juli Jajuli (bukan nama asli) kan sudah punya kerjaan, rumah besar, mobil ada dua. Jadi, kamu batalkan lamaran. Biar Maisya menerima lamaran Jajuli. Kamu kan bisa cari yang lain.”</p>
<p>Hhh! Betapa mendidih mendengar ocehan sinis itu. Tapi aku langsung kontrol diri. Aku jawab dengan suara pelan dan sopan bahwa aku akan terima hal itu dengan ikhlas tanpa ada paksaan dari siapa pun. Sebelum kudengar langsung dari mulut Maisya, aku tak akan pernah membatalkan lamaranku. Gubrakkkk!, terdengar suara gagang telepon dibanting, padahal jawabanku belum selesai.</p>
<p>Suatu hari di tengah kesibukanku, datanglah seorang wanita sekitar umur 25-30 tahun ke kantorku. Tanpa permisi dan sopan santun dia menghampiriku, “Kamu yang melamar Maisya? Kamu tuh ga tahu diri ya? Belum jadi menantu saja sudah belagu,” cerocosnya.</p>
<p>“Mohon tenang dulu, apa masalahnya? Ayo kita duduk dulu di sini jelaskan dengan pelan,” sambutku dengan sabar.</p>
<p>“Kamu tuh kalo ngasih alamat yang jelas, biar mudah dicari, saya sudah muter-muter mencari alamatmu tapi ternyata tidak ketemu-ketemu, apa kamu mau mempermainkan kami?” tukasnya sambil menunjukkan kartu namaku.</p>
<p>“Apa tadi ente tidak tanya sama orang-orang?” tanyaku.</p>
<p>“Tidak!” jawabnya ketus.</p>
<p>“Ya jelas pasti kesasar, seharusnya ente tanya-tanya dong,” sahutku.</p>
<p>“Aaah udah deh jangan banyak alasan,” jawabnya. “Eh aku kasih tau ya, kau tuh jangan pernah macam-macam dengan keturunan Nabi, kuwalat loh!”, ancamnya.</p>
<p>Dengan sedikit senyum kujawab ancamannnya, “Kalo Nabi punya keturunan seperti ente, pasti Nabi akan sangat marah pada ente. Wanita kok pakai celana jeans, kaos ketat, dan tidak berjilbab. Nabi tentu akan malu jika punya keturunan seperti ente.” Wanita itu kabur sambil ngomel-ngomel entah apa yang dia katakan.</p>
<p>Kejadian itu membuat hatiku semakin was-was dan khawatir. Kalau demikian dengkinya mereka dengan pernikahanku bersama Maisya, maka bisa jadi mereka akan lebih jauh lagi dalam memberikan “teror”. Akankah mereka menghalangiku sampai pelaksanaan hari “H”? Wallahu a’lam.</p>
<p>Yang jelas sebelum aku tanda tangan surat nikah yang disediakan penghulu, maka aku belum bisa menentukan bahwa Allah takdirkan aku menikahi Maisya. Semuanya bisa terjadi. Sabarkanlah diriku ya Allah.</p>
<p>Dari telepon pula aku tahu bahwa Maisya sempat disidang oleh keluarga besarnya untuk membatalkan pernikahan denganku. Tapi dia lebih memilih akan kabur dari rumah dan tetap menikah denganku. Padahal keluarganya memberi pilihan: batal nikah atau putus hubungan keluarga.</p>
<p>***</p>
<p>Undangan mulai kucetak. Sederhana sekali karena aku memang tidak punya biaya banyak untuk pernikahan ini. Aku tidak punya saudara di kota tempat Maisya tinggal. Jadi undangan yang banyak hanya untuk keluarga, tetangga, dan kenalan Maisya.</p>
<p>Hari H semakin dekat. Persiapan juga semakin matang. Aku terharu lagi ketika ditanya,</p>
<p>“Akhi siapnya ngasih berapa untuk persiapan ini? Tapi jangan merasa berat dan terpaksa, kalau tidak ada ya nggak apa-apa.” Aku hanya bisa tergagap menjawabnya. Ku katakan bahwa aku akan mendapat sumbangan dari kantorku tapi perlu proses untuk cair, jadi sementara aku hanya bisa beri sedikit. Itu pun sudah kupaksakan pinjam ke sana-sini.</p>
<p>Tapi Maisya menyambut hal itu dengan tanpa cemberut sedikitpun. Subhanallah.</p>
<p>Panitia pernikahan dari ikhwan sudah aku siapkan. Aku bertekad bahwa pernikahan ini harus seislami mungkin, di antaranya memisahkan antara tamu pria dan wanita walau mungkin akan mendapatkan respon yang bermacam-macam. Aku tak peduli.</p>
<p>Keluarga Maisya pun tak tinggal diam. Di antara mereka ada yang memintaku agar busana Maisya pada saat penikahan nanti adalah busana pengantin pada umumnya. Astaghfirullah, usulan yang sangat berlumuran dosa. Jelas kutolak mentah-mentah.</p>
<p>Ada juga yang nyeletuk agar pernikahan kami dihibur dengan orkes atau musik gambus dan yang sejenisnya. Tapi itu pun aku tolak. Ternyata sampai mendekati hari H pun aku harus beradu urat syaraf dengan mereka.</p>
<p>Tibalah saatnya kegelisahanku yang paling dalam. Aku sedang berpikir bagaimana jadinya jika ada yang mengacaukan pernikahanku. Aku punya seorang saudara marinir. Aku telepon dia dan kuwajibkan datang. Kalau perlu pakai seragam resmi lengkap. Aku akan jadikan dia sebagai pengamanan tambahan. Karena pengamanan Allah lebih kuat, bahkan tidak perlu ada pengamanan tambahan. Itu hanya ikhtiar saja. Malam hari “H” dia datang dan siap menghadiri acara nikah besoknya.</p>
<p>Aku minta bantuan teman lamaku untuk mengantarku pakai Kijang. Teman senior kantorku yang sudah aku anggap orang tuaku juga siap mengantar pakai Panther, bahkan dialah yang akan memberi sambutan dari pihak mempelai pria.</p>
<p>Dengan sedikit gemetar dan mata sedikit basah, aku lalui proses ijab kabul yang sederhana tanpa disertai ritual-ritual yang tidak ada dasarnya seperti sungkem, injak telor, membasuh kaki, dan sebagainya.</p>
<p>Tangisku meledak ketika berdua dengan Maisya untuk pertama kalinya. Tangis makin dahsyat saat aku menghadap ibuku. Kupeluk erat-erat ibuku, kakakku, dan saudara yang mendampingiku.</p>
<p>Subhanallah, aku sudah menjadi seorang suami. Aku menjadi kepala keluarga yang didampingi oleh Maisya yang aku dapatkan dengan “darah dan air mata”. Akhirnya kulalui rumah tangga ini dengan segala bunga rampainya sampai dikaruniai beberapa anak yang lucu-lucu. Semoga dapat aku lalui kehidupan ini dengan diiringi bimbingan dari yang Maha membolak balikkan hati, sehingga hatiku tetap teguh dengan agama-Nya.</p>
<p><em>Suami Maisya</p>
<p>Diambil dari Buku “<img src="http://www.bukumuslim.com/image-product/img208.jpg" alt="Semudah Cinta Di Awal Senja" />” Terbitan Nikah Media Samara</em></p>
Posted in Keluarga  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/djabrik.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/djabrik.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/djabrik.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/djabrik.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/djabrik.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/djabrik.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/djabrik.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/djabrik.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/djabrik.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/djabrik.wordpress.com/43/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=djabrik.wordpress.com&blog=58390&post=43&subd=djabrik&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://djabrik.wordpress.com/2009/08/18/aku-datang-maisya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">djabrik</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.bukumuslim.com/image-product/img208.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Semudah Cinta Di Awal Senja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bersama Kita Jelang Surga, Insya Alloh</title>
		<link>http://djabrik.wordpress.com/2008/04/02/bersama-kita-jelang-surga-insya-alloh/</link>
		<comments>http://djabrik.wordpress.com/2008/04/02/bersama-kita-jelang-surga-insya-alloh/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Apr 2008 07:02:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>djabrik</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://djabrik.wordpress.com/2008/04/02/bersama-kita-jelang-surga-insya-alloh/</guid>
		<description><![CDATA[Sejak kecil aku mengenalmu, karena kau tetangga dekatku. Namun tak pernah terbayang engkau akan menjadi pendampingku.
Sebenarnya engkau tak terlalu cantik, tapi lebih sulit untuk mengatakan engkau jelek. Biasa saja. Engkau juga tak pernah memoleskan make up di wajahmu, apalagi mengenakan perhiasan sebagaimana kebanyakan teman-temanmu. Namun kesahajaan itulah yang justru mengusik hatiku, sehingga kuputuskan untuk memilihmu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=djabrik.wordpress.com&blog=58390&post=26&subd=djabrik&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Sejak kecil aku mengenalmu, karena kau tetangga dekatku. Namun tak pernah terbayang engkau akan menjadi pendampingku.</p>
<p>Sebenarnya engkau tak terlalu cantik, tapi lebih sulit untuk mengatakan engkau jelek. Biasa saja. Engkau juga tak pernah memoleskan <i>make up</i> di wajahmu, apalagi mengenakan perhiasan sebagaimana kebanyakan teman-temanmu. Namun kesahajaan itulah yang justru mengusik hatiku, sehingga kuputuskan untuk memilihmu menjadi pendamping hidupku. Engkau yang sederhana, pintar dan tak banyak bicara, sungguh terlihat dewasa.<br />
<span id="more-26"></span><br />
Engkau bukan anak orang berpangkat, juga bukan keturunan ningrat. Tapi aku tak peduli, yang kuutamakan bukan itu. Tetapi raga yang selalu menutup aurat dan jiwa yang selalu mengutamakan akhirat. Tekadku sudah bulat, kan kupinang dirimu dalam waktu dekat.</p>
<p>Saat itu engkau baru lulus SMA. Tak kusangka engkau menerima dengan kedua tangan terbuka. Bahkan, demi aku, engkau rela mengorbankan keinginanmu untuk mencicipi bangku kuliah. Semua gurumu pun menyayangkan hal itu, karena menurut mereka engkau termasuk murid yang cerdas. Tapi entah mengapa, engkau lebih memilih menjadi ibu rumah tangga saja. Sujud syukurku kepada Alloh, <i>Alhamdulillah</i>.</p>
<p>Semua serasa begitu mudah, dan kita pun menikah. Saat itu usiaku 25 tahun, sedangkan usiamu baru 19 tahun. Memang masih muda untuk kalangan umum, tetapi ternyata engkau berani mengakhiri lajangmu di usia sedini itu. Aku pun semakin kagum padamu.</p>
<p>Sejak menikah hingga kini, belum pernah engkau mengeluh tentang keadaan yang kita alami. Padahal, engkau tahu sendiri, penghasilanku yang tak seberapa, kadangkala tak seimbang antara pemasukan dan kebutuhan. Sering kita harus menekan beberapa keinginan karena memang kita tak sanggup untuk menggapainya. Namun tak pernah kulihat kristal bening menetes dari pelupuk matamu karena itu. Bahkan ketika engkau harus berhutang sekalipun.</p>
<p>Masih teringat ketika pertama kali kita arungi bahtera ini di sebuah kontrakan mungil. Sama sekali kita tak punya apa-apa, bahkan alas tidur pun tak ada. Tapi, engkau begitu cerdik. Seonggok pakaian kita yang masih tersimpan di dalam tas usang kau keluarkan. Engkau lipat, kemudian kau tumpuk dua hingga tiga pakaian, lalu kau bariskan sedemikian rupa hingga menyerupai kasur. Kenudian engkau bentangkan kerudung lebarmu laksana seprei permadani menyelimuti &#8220;kasur indah&#8221; kita. Engkau tersenyum dan mempersilahkan aku tidur. Kutatap wajahmu, kubalas senyummu dengan genangan air mata haru.</p>
<p>Bersamamu, bergulirnya waktu terasa begitu cepat. Hari-hari berlalu terasa indah. Kekurangan materi yang menemani kita setiap hari, seakan bukan merupakan beban manakala kita senantiasa ikhlas. Denganmu, begitu banyak pelajaran yang telah aku petik.</p>
<p>Ketika setahun usia pernikahan kita, tujuh bulan sudah usia kehamilamu. aku begitu panik ketika tiba-tiba engkau mengalami pendarahan, tapi engkau begitu tenang, tak gugup sedikit pun. Padahal dari keningmu berkerut dan nafasmu yang tertahan, aku tahu kau tengah menahan rasa sakit yang luar biasa. Segera kubawa ke bidan, dan dia bilang ini tanda-tanda mau melahirkan.</p>
<p>Jam dua belas tengah malam, ketika semua insan terlelap dengan mimpi-mimpinya, anak pertama kita lahir, prematur. Ah&#8230; betapa bahagianya aku, kucium keningmu berulang kali. Kudengar kau berbisik, &#8220;Bi&#8230;. aku lapar&#8221;. Tersentak aku mendengarnya. Ya, seharian tadi engkau sama sekali tidak memasak dan tak makan karena sudah merasakan sakit sejak kemarin. Sedangkan sore tadi aku hanya beli sebungkus nasi di warung dan sudah kulahap habis, sebab tadi kutawari kau tak mau. Tak ada roti, tak ada jajanan, atk ada apa pun untuk mengganjal perutmu. Mau beli, seluruh toko dan warung sudah pada tutup. Akhirnya, kusodorkan segelas air putih yang disuguhkan bidan untukmu. Dan engkau pun tak menuntut lebih dari itu. Kembali menggenang air mata di pelupuk mataku menyaksikan kebahagiaan yang tersirat di wajahmu. Yah, bayi mungil kita yang nampak sehat dan berbahagia telah menjadikanmu lupa lapar dan dahaga.</p>
<p>Tahun berganti dan engkau tak pernah berubah. Hampir sepulu tahun kita bersama dalam kehidupan yang selalu sederhana, tapi kita tak pernah mengeluh. Engkau juga tak pernah menuntut dunia dariku, tak pernah minta ini dan itu sebagaimana para istri kebanyakan. Beli pakaian saja, mungkin tiga atau empat tahun sekali. Perhiasan? Kau tak pernah mengenalnya. Bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari saja tanpa hutang saja bagimu sudah lebih dari cukup.</p>
<p>Sungguh, aku beruntung sekali memilikimu. Engkaulah perhiasan itu. Semoga engkau selalu tegar mendampingiku, hingga kita jelang surga bersama-sama. Insya Alloh (Abu Al-Ayyubi).</p>
<p><i>*Buat istriku, aku tahu engkau punya mimpi. Maafkan aku yang hingga kini belum mampu mewujudkan mimpimu itu.</i></p>
<p>Sumber :<br />
- Majalah Ar-Risalah, edisi 64 Th. VI Romadhon-Syawal 1427 H / Oktober 2006, hal. 41-42<br />
- Buku &#8220;Bila Pernikahan Tak Seindah Impian&#8221; &#8211; Menginstal nyali menghadapi kekecewaan dalam kehidupan pernikahan, Muhammad Albani, Penerbit Mumtaza-Solo, Cetakan I (Mei 2007 / Jumadil Ula 1428H) </p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/djabrik.wordpress.com/26/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/djabrik.wordpress.com/26/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/djabrik.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/djabrik.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/djabrik.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/djabrik.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/djabrik.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/djabrik.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/djabrik.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/djabrik.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/djabrik.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/djabrik.wordpress.com/26/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=djabrik.wordpress.com&blog=58390&post=26&subd=djabrik&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://djabrik.wordpress.com/2008/04/02/bersama-kita-jelang-surga-insya-alloh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">djabrik</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tips Tebar Pesona Di Lampu Merah Saat Ber B2W</title>
		<link>http://djabrik.wordpress.com/2008/03/13/tips-tebar-pesona-di-lampu-merah-saat-ber-b2w/</link>
		<comments>http://djabrik.wordpress.com/2008/03/13/tips-tebar-pesona-di-lampu-merah-saat-ber-b2w/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Mar 2008 06:36:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>djabrik</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sepeda]]></category>
		<category><![CDATA[Tips 'n Trik]]></category>
		<category><![CDATA[b2w]]></category>
		<category><![CDATA[Disiplin]]></category>
		<category><![CDATA[Lalu Lintas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://djabrik.wordpress.com/2008/03/13/tips-tebar-pesona-di-lampu-merah-saat-ber-b2w/</guid>
		<description><![CDATA[Peraturan lalu lintas mungkin berlaku untuk semua pengguna jalan. Namun aturan lebih tegas diterapkan untuk pengguna kendaraan bermotor. Bagi b2w-er biasanya &#8220;gatal&#8221; untuk ikut turun antri menunggu lampu merah. Bagi yang sadar akan pentingnya kedisiplinan, mereka dengan rela dan ikhlas menunggu lampu lalu lintas. Tapi tidak sedikit yang mempertaruhkan keselamatan dirinya dan pengguna jalan lain [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=djabrik.wordpress.com&blog=58390&post=20&subd=djabrik&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Peraturan lalu lintas mungkin berlaku untuk semua pengguna jalan. Namun aturan lebih tegas diterapkan untuk pengguna kendaraan bermotor. Bagi b2w-er biasanya &#8220;gatal&#8221; untuk ikut turun antri menunggu lampu merah. Bagi yang sadar akan pentingnya kedisiplinan, mereka dengan rela dan ikhlas menunggu lampu lalu lintas. Tapi tidak sedikit yang mempertaruhkan keselamatan dirinya dan pengguna jalan lain dengan menerobos lampu merah di perempatan jalan.<br />
<span id="more-20"></span><br />
Berikut ini saya kutipkan 2 tips agar kita rela dan ikhlas menunggu bergantinya lampu lalu lintas dari merah ke hijau, yang saya ambil dari milis b2w indonesia (b2w-indonesia@yahoogroups.com) :</p>
<p>Om Ripto Gatut ( sitanya9900@yahoo.com.sg ) :</p>
<p>1. Tentunya ambil napas&#8230;biar kelihatan perjalanan jauh&#8230;<br />
2. Nyeruput air dari bidon (waterbag) &#8230;haus bok !<br />
3. Ngeluarin HP&#8230;pura2 ngecek sms, padahal pamer HP -&gt; Tidak dianjurkan bagi yang HP-nya jelek.<br />
4. Ngeluarin Blackberry belaga YM-an&#8230;biar org tau naik sepeda tapi punya BB&#8230;<br />
5. Utak atik cyclo (pengukur kecepatan rata-2, kec. maksimal, jarak tempuh, waktu) &#8230;.biar motorist heran sepeda juga punya spedometer&#8230;<br />
6. Mainin GPS di handlebar&#8230;ngecek altimeter&#8230;pret!<br />
7. keluarin ilmu trackstand&#8230;.gaya men !!!</p>
<p>Lain lagi tips dari Om Gilang (Cecep.Gumilang@feminagroup.com) yang belagak jadi Cover Boy di saat Lampu Merah :<br />
1. Pura2 ngelap keringet dan menampilkan ekspresi lelah tapi bahagia.<br />
2. Ambil botol minuman dengan tangan kanan, dongakkan kepala Anda dan minumlah dengan gaya yang macho.<br />
3. Selesai minum, kibaskan kepala Anda ke kiri-kanan beberapa kali, seperti di iklan shampoo. Jangan lupa, keluarkan napas panjang.<br />
4. Tengok kiri atau kanan, siapa tahu ada gadis yang sedang memperhatikan Anda.<br />
5. Jika ada, lirik matanya, beri senyum Anda yang terbaik.<br />
6. Jika si gadis tersenyum, hentikan senyum Anda&#8230; bersikaplah misterius.<br />
7. Lampu hijau menyala! kayuh sepeda dengan keanggunan seekor kuda jantan.<br />
8. Jika ada klakson, tengoklah.. apabila dari si Gadis, itu tandanya dia jatuh dalam pelukan Anda.</p>
<p>Selamat bersabar menunggu lampu merah&#8230; <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/djabrik.wordpress.com/20/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/djabrik.wordpress.com/20/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/djabrik.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/djabrik.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/djabrik.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/djabrik.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/djabrik.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/djabrik.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/djabrik.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/djabrik.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/djabrik.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/djabrik.wordpress.com/20/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=djabrik.wordpress.com&blog=58390&post=20&subd=djabrik&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://djabrik.wordpress.com/2008/03/13/tips-tebar-pesona-di-lampu-merah-saat-ber-b2w/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">djabrik</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>